MUHAMMAD DAN DRAMA SANG GURU
Muhammad! Kami yakin Kau adalah Rasul sejati
Kau tak pernah berbuat semau-mu, berucap semau-mu
dan berisyarat semau-mu, karena Kau selalu dituntun Wahyu
meskipun kami tak bersua dengan-mu
kami rasakan kehadiran-mu, tanpa Kau, kami tak
kenal Allah, tak kenal dosa,amal, shalat, do’a dan dzikir
tak ada wahyu sesudah-mu, kami terima Kau sepenuh hati
Hati penuh, hati tenang, hati tentram
Tiba-tiba ada yang usik, siapa-dari mana, ndak tahu
suaranya sayup, dia memuji sang guru, katanya: “ Guruku pintar;
pintar baca, pintar tulis, pintar ngoceh, rayu, bohong…apa itu
Muhammad, buat apa tulis ucapan Muhammad, siapa hirau Muhammad,
Dia sendiri bilang tak usah tulis. Aku lebih butuh ucapan guru, gurukulah nabiku”.
oooh Muhammad! Ucap-mu dipakai ntuk tolak sabda-sabda-mu.
Hati terusik, hati bengis, hati gusar
kami cari asal suara, Widia Candra naganya
kami datang, kami lapor gardu jaga, kami tak bisa masuk
boss sedang menjamu Tuhan, Tuhan makan siang
Tuhan akrab dengan boss, boss sering nyebut Nama-Nya
menarik sekali, terus… boss berguru pada nabi, ingin jadi nabi
Nabi yang punya segala, yang suka menderma pada orang
yang mau menabikannya
ooo…. Pantas kami tak pernah kebagian dzakat hartanya
habis kami tidak…………………………
Tinggalkan gardu, tinggalkan boss, tinggalkan Tuhan yang sedang makan
kami pulang, kami gentar, kami ,masih gusar
biarlah, dikampung mungkin ada tentram, harum tanah,
damai suasana, lembut belai ibu, ibu yang dulu beritahu
bahwa tak ada lagi Nabi setelah Muhammad
Merah api, bakar musnah, tak cari sebab, ratusan jiwa gamang
goyang, hampir pingsan, pilar tlah meng-abu,
masih ada hati, kepinglah sedikit, gadai, toloooong….!
Ha…ha…ha.., tak usah rusuh, hilangkan bingung
akulah si boss datang bersama Tuhan
nabikanlah aku! Jangan graha, kisra-pun kan kucipta
Tuhan berkenan memilih kalian
Susun bata, aduk pasir, berdiri megah, ramai, semakin ramai masai
kemana ilmu-ilmu yang tlah didapat? Dibuang, dibekukan, dipetikan? Sis-sia
rangkul yang mau, bujuk yang malu, tendang yang acuh, peduli apa kata orang-orang
oh Tuhan! Janganlah bergurau dengan kami, benarkah Kau pilih
mereka menjadi nabi-Mu? Kami tak lihat mereka menda’wahi fir’un
fir’un yang masih hidup kini, bukankah tidak seorang nabipun
yang Kau janjikan sesudah Muhammad kekasih-Mu itu?
Yaa Allah! Ampuni kami bila salah, tunjuki mereka bila keliru,
Dan kepada-Mu kami adukan; bahwa segenggam cahaya dari timurpuntlah pudar
lebur bersama mereka, inikah drama sang guru itu?
M. Syukri Usman, Mei 1994
Sebuah refleksi dari kebakaran sebuah Pondok Pesantren yang terletak sebelah utara Kota Padang Panjang, dalam waktu yang relatif singkat berdiri kembali denga bangunan yang jauh lebih dari pada sebelumnya.
Muhammad! Kami yakin Kau adalah Rasul sejati
Kau tak pernah berbuat semau-mu, berucap semau-mu
dan berisyarat semau-mu, karena Kau selalu dituntun Wahyu
meskipun kami tak bersua dengan-mu
kami rasakan kehadiran-mu, tanpa Kau, kami tak
kenal Allah, tak kenal dosa,amal, shalat, do’a dan dzikir
tak ada wahyu sesudah-mu, kami terima Kau sepenuh hati
Hati penuh, hati tenang, hati tentram
Tiba-tiba ada yang usik, siapa-dari mana, ndak tahu
suaranya sayup, dia memuji sang guru, katanya: “ Guruku pintar;
pintar baca, pintar tulis, pintar ngoceh, rayu, bohong…apa itu
Muhammad, buat apa tulis ucapan Muhammad, siapa hirau Muhammad,
Dia sendiri bilang tak usah tulis. Aku lebih butuh ucapan guru, gurukulah nabiku”.
oooh Muhammad! Ucap-mu dipakai ntuk tolak sabda-sabda-mu.
Hati terusik, hati bengis, hati gusar
kami cari asal suara, Widia Candra naganya
kami datang, kami lapor gardu jaga, kami tak bisa masuk
boss sedang menjamu Tuhan, Tuhan makan siang
Tuhan akrab dengan boss, boss sering nyebut Nama-Nya
menarik sekali, terus… boss berguru pada nabi, ingin jadi nabi
Nabi yang punya segala, yang suka menderma pada orang
yang mau menabikannya
ooo…. Pantas kami tak pernah kebagian dzakat hartanya
habis kami tidak…………………………
Tinggalkan gardu, tinggalkan boss, tinggalkan Tuhan yang sedang makan
kami pulang, kami gentar, kami ,masih gusar
biarlah, dikampung mungkin ada tentram, harum tanah,
damai suasana, lembut belai ibu, ibu yang dulu beritahu
bahwa tak ada lagi Nabi setelah Muhammad
Merah api, bakar musnah, tak cari sebab, ratusan jiwa gamang
goyang, hampir pingsan, pilar tlah meng-abu,
masih ada hati, kepinglah sedikit, gadai, toloooong….!
Ha…ha…ha.., tak usah rusuh, hilangkan bingung
akulah si boss datang bersama Tuhan
nabikanlah aku! Jangan graha, kisra-pun kan kucipta
Tuhan berkenan memilih kalian
Susun bata, aduk pasir, berdiri megah, ramai, semakin ramai masai
kemana ilmu-ilmu yang tlah didapat? Dibuang, dibekukan, dipetikan? Sis-sia
rangkul yang mau, bujuk yang malu, tendang yang acuh, peduli apa kata orang-orang
oh Tuhan! Janganlah bergurau dengan kami, benarkah Kau pilih
mereka menjadi nabi-Mu? Kami tak lihat mereka menda’wahi fir’un
fir’un yang masih hidup kini, bukankah tidak seorang nabipun
yang Kau janjikan sesudah Muhammad kekasih-Mu itu?
Yaa Allah! Ampuni kami bila salah, tunjuki mereka bila keliru,
Dan kepada-Mu kami adukan; bahwa segenggam cahaya dari timurpuntlah pudar
lebur bersama mereka, inikah drama sang guru itu?
M. Syukri Usman, Mei 1994
Sebuah refleksi dari kebakaran sebuah Pondok Pesantren yang terletak sebelah utara Kota Padang Panjang, dalam waktu yang relatif singkat berdiri kembali denga bangunan yang jauh lebih dari pada sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar